PETANI PISANG DENGAN 2000 BIBIT PISANG JENIS AMBON, RAJA BULU, KEPOK PIPIT, SUSU, RAJA NANGKA YANG INGIN MANDIRI TINGGAL DI GUNUNGPATI SEMARANG 081229231277, 085727054383
Rabu, 08 Juni 2011
200 TRUK PISANG PER HARI
PISANG LAMPUNG DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH
Kalau Anda berkesempatan jalan darat dari Jakarta ke Bandar Lampung, paling tidak tiap setengah jam akan berpapasan dengan truk yang penuh pisang. Sebab tiap harinya sekitar 50 truk pisang menyeberang dari Bakauhuni ke Merak. Daya angkut truk-truk itu sekitar 6 ton pisang segar. Harga pisang “rames” yang masih tandanan ini di tingkat petani Rp 300,- per kg. Yang “super” Rp 600,- per kg. Padahal di Jakarta, harga pisang-pisang “rakyat” itu per sisir bisa mencapai Rp 3.000,- sampai Rp 5.000,- Dengan harga jual di tingkat petani Rp 300,- per kg, maka omset pisang lampung di tingkat petani, diperkirakan minimal sekitar Rp 32 milyar per tahun. Angka produksi tahun 1999 tercatat sebanyak 218.268 ton. Kalau dihitung rata-rata berarti mencapai 100 truk per hari, dengan total omset Rp 65 milyar. Sementara di DKI angka itu akan menggelembung menjadi minimal Rp 200 milyar.
Banyak kalangan yang menduga, selisih angka yang mencapai Rp 135 milyar itu “dinikmati” oleh tengkulak. Kenyataannya, tengkulak pun mengeluhkan ihwal perdagangan pisang ini. Keluhan utama mereka adalah rendahnya mutu pisang rakyat dan kurangnya pasokan selama sekitar 3 sampai 5 bulan pada saat musim kemarau. Selisih angka itu sebagian besar digunakan untuk menanggung resiko rusak yang mencapai 30 sampai 40%. Selebihnya untuk ongkos angkut, biaya siluman, preman dan keuntungan. Kalau dalam keadaan normal, tiap harinya rata-rata 50 truk pisang menyeberang dari Bakauhuni ke Merak, maka ketika sepi paling banyak hanya sekitar 10 truk. Omset pisang rakyat ini masih bisa ditingkatkan dua kali lipat. Dan ini merupakan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lumayan untuk dikembangkan dalam rangka otonomi daerah di waktu-waktu mendatang.
Selama ini di masyarakat Lampung dikenal dua istilah pisang. Rames dan super. “Rames” adalah istilah untuk pisang campuran yang mutunya juga sangat rendah. Sementara pisang “super” digunakan masyarakat untuk menyebut pisang-pisang yang lebih homogen dengan kualitas yang relatif lebih baik. Jenis yang paling favorit diminta pasar adalah ambon kuning, raja bulu merah, raja sereh kecil (susu), kepok kuning, mas dan tanduk. Semua jenis favorit ini tidak tahan penyakit, kecuali mas. Pisang-pisang lain yang tahan penyakit adalah ambon lumut, ambon putih, nangka, kepok putih, raja bulu putih, muli, raja sereh besar dan lilin yang semuanya tidak terlalu disukai pasar. Pisang-pisang yang harganya relatif murah inilah yang lazim disebut sebagai pisang “rames” oleh masyarakat. Cara pemetikannya tanpa menghitung tingkat ketuaan, pengangkutannya dengan menumpuk tandan secara tidur dalam bak truk. Tak heran kalau tingkat kerusakan yang ditimbulkannya bisa mencapai 30 sampai 40% setelah tiba di Jakarta atau Bogor.
Dalam keadaan “puncak”, arus pisang rakyat dari Lampung ke DKI dapat mencapai 200 truk per hari. Atau rata-rata setiap 7 menit kita akan berpapasan dengan truk pisang. Pisang-pisang itu akan masuk ke Pasar Induk Cibitung, Pasar Induk Kramat Jati dan ke Cibedug, Ciawi serta ke beberapa kecamatan lain di Kabupaten Bogor. Yang masuk ke pasar Induk selanjutnya akan menjadi pisang goreng, untuk konsumsi rumah sakit, asrama, rumah makan, peserta pertemuan, seminar dan pesta. Sementara yang masuk ke Kab. Bogor akan disortir, diperam dan dipasarkan ke jalur wisata Puncak dan Sukabumi, serta masuk ke pasar swalayan Jakarta. Kira-kira 90 % pisang yang dipasarkan di DKI dan jalur wisata Puncak/Sukabumi berasal dari Lampung. Pisang-pisang rakyat dari Jawa Barat hanya masuk ke pasar-pasar lokal, termasuk pasar lokal di DKI. Pisang Jawa Tengah selama ini mutunya dikenal paling baik dan selalu habis di Jawa Tengah. Demikian pula pisang di Jawa Timur yang sentranya terdapat di Malang selatan dan Lumajang akan habis terserap oleh Surabaya serta Denpasar.
Produksi pisang Lampung tidak seluruhnya diangkut ke Jakarta dalam bentuk segar. Industri keripik pisang telah tumbuh dengan baik dan tiap tahunnya mampu menyerap pisang ambon setengah matang sampai 1.780 ton. Banyak kalangan yang menduga bahwa industri keripik pisang adalah penyerap pisang-pisang afkir atau jenis-jenis yang tidak disukai pasar segar. Dugaan ini tidak benar sebab yang bisa diserap industri keripik hanyalah pisang ambon kualitas baik. Apabila pasokan pisang ambon berkurang, barulah mereka bersedia mengambil cavendish sebagai pilihan terakhir. Pisang-pisang “rames” sama sekali tidak pernah masuk ke industri keripik. Dalam keadaan pasokan normal, industri keripik hanya bersedia menerima pisang ambon kualitas super, meskipun cavendish terbuang-buang untuk pakan sapi. Di provinsi Lampung tercatat ada 13 perusahaan keripik besar. Salah satunya yang paling populer adalah Suseno. Selain itu masih ada puluhan industri keripik skala rumahtangga. Hampir seluruh produksi keripik ini dibawa ke luar Lampung. Untuk dipasarkan di luar Lampung atau sebagai oleh-oleh khas dari provinsi ini.
Di Lampung, sudah sejak jaman “transmigran” dulu, pisang rakyat dibudidayakan secara homogen. Artinya petani tersebut hanya khusus menanam pisang di petak lahannya. Namun budidaya yang mereka lakukan masih menggunakan pola tradisional. Tidak diairi, tidak dipupuk dan tidak dilakukan pengambilan anakan. Akibat tidak dilakukan pengairan secara baik, maka selama musim kemarau antara 3 sd. 5 bulan, produksi akan terganggu. Sementara pada musim hujan produksi melimpah dan harga akan jatuh. Padahal di Lampung banyak dijumpai sungai yang di musim kemarau pun debitnya masih cukup besar. Dengan pompanisasi sederhana, sungai-sungai ini bisa disedot untuk mengairi pisang. Biaya pompa sederhana ini sekitar Rp 5.000.000.- dan bisa mengairi antara 5 sd. 10 hektar lahan. Pola semacam ini sudah banyak diterapkan oleh masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo maupun Citarum untuk menanam padi atau palawija di lahan tadah hujan mereka.
Dengan adanya pengairan yang baik, panen pisang akan bisa berlangsung sepanjang tahun tanpa terhenti. Kualitas pisang pun akan pisa ikut diperbaiki. Tahun lalu Skim Kredit Usaha Tani (KUT) untuk pisang ditetapkan Rp 3.500.000,- per hektar. Skim ini dimaksudkan untuk melakukan perawatan, terdiri dari pengairan, pemupukan dan penjarangan anakan. Namun skim-skim demikian banyak diakali oleh aparat Dinas Pertanian, Penyuluh maupun Koperasi. Cara mereka menipu adalah dengan membujuk petani agar mau menanam bibit “kultur jaringan”. Harga bibit kultur jaringan di pasar bebas sekitar Rp 2.500,- per bibit. Tiap hektar lahan akan diperlukan 1.000 bibit. Jadi untuk menanami 1 hektar lahan, sudah diperlukan dana untuk pembelian bibit sebesar Rp 2.500.000,- Hingga uang KUT yang hanya Rp 3.500.000,- itu akan tinggal Rp 1.000.000,- dan itu hanya cukup untuk biaya penanaman.
Bibit-bibit pisang kultur jaringan itu pada akhirnya hancur oleh serangan cendawan Fusarium, bakteri Pseudomonas dan penyakit-penyakit pisang lainnya. Serangan penyakit terhadap pisang yang ditanam homogen, lebih-lebih yang berasal dari bibit kultur jaringan memang sangat ganas. Petani menjadi buntung sementara aparat Dinas, Penyuluh dan Koperasi sudah bisa mendapatkan keuntungan dari margin perdagangan bibit. Hal semacam ini sangat sulit untuk dibuktikan di lapangan, meskipun para petani dan masyarakat pada umumnya sangat merasakan adanya “bau” KKN. Padahal, apabila uang Rp 3.500.000,- per hektar itu benar-benar digunakan untuk mengairi tanaman, memupuk dan menjarangkan anakan, maka petani akan bisa penen minimal 3 kali selama setahun dari sebelumnya 2 kali setahun. Kualitasnya pun akan meningkat. Kalau sebelumnya rata-rata berisi 6 sisir, akan menjadi rata-rata 8 sisir. Beratnya akan naik dari rata-rata 10 kg menjadi 15 kg per tandan. Dan harganya berubah pula dari Rp 300,- per kg (rames) menjadi Rp 500,- atau dari Rp 600,- (super) menjadi Rp 800,- di tingkat petani. Dengan modal Rp 3.500.000,- per hektar itu, kenaikan pendapatan petani bisa mencapai Rp 12.500.000,- per hektar. Namun hal ini baru bisa dicapai apabila para petani bersedia mengelompok hingga luasan areal mereka mencapai 5 sampai dengan 10 hektar.
Kondisi lapangan demikian tidak pernah disadari oleh aparat Departemen Pertanian maupun Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Mereka lebih banyak mengeluhkan masalah pemasaran. Misalnya saja, mereka beranggapan selama ini para petani hanya menjadi obyek pemerasan tengkulak. Kalau para petani itu berniat memasarkan sendiri produk mereka ke Pasar Induk, maka mereka akan berhadapan dengan “mafia” Pasar Induk yang sulit untuk ditembus. Sementara pasar ekspor juga tidak pernah menjanjikan apa-apa selain serangkaian kesulitan dan kerumitan persyaratan. Kesemrawutan permasalahan pisang rakyat di Lampung ini masih pula ditambah dengan kenyataan bahwa kebun pisang cavendish PT Nusantara Tropical Fruits (NTF) di Wai Jepara, Lampung Tengah seluas lebih dari 2.000 hektar, sekarang ini dalam kondisi “dorman” berat. Kapasitas produksinya tinggal kurang dari 20% dari kapasitas normalnya akibat hajaran penyakit.
Kalau Anda berkesempatan jalan darat dari Jakarta ke Bandar Lampung, paling tidak tiap setengah jam akan berpapasan dengan truk yang penuh pisang. Sebab tiap harinya sekitar 50 truk pisang menyeberang dari Bakauhuni ke Merak. Daya angkut truk-truk itu sekitar 6 ton pisang segar. Harga pisang “rames” yang masih tandanan ini di tingkat petani Rp 300,- per kg. Yang “super” Rp 600,- per kg. Padahal di Jakarta, harga pisang-pisang “rakyat” itu per sisir bisa mencapai Rp 3.000,- sampai Rp 5.000,- Dengan harga jual di tingkat petani Rp 300,- per kg, maka omset pisang lampung di tingkat petani, diperkirakan minimal sekitar Rp 32 milyar per tahun. Angka produksi tahun 1999 tercatat sebanyak 218.268 ton. Kalau dihitung rata-rata berarti mencapai 100 truk per hari, dengan total omset Rp 65 milyar. Sementara di DKI angka itu akan menggelembung menjadi minimal Rp 200 milyar.
Banyak kalangan yang menduga, selisih angka yang mencapai Rp 135 milyar itu “dinikmati” oleh tengkulak. Kenyataannya, tengkulak pun mengeluhkan ihwal perdagangan pisang ini. Keluhan utama mereka adalah rendahnya mutu pisang rakyat dan kurangnya pasokan selama sekitar 3 sampai 5 bulan pada saat musim kemarau. Selisih angka itu sebagian besar digunakan untuk menanggung resiko rusak yang mencapai 30 sampai 40%. Selebihnya untuk ongkos angkut, biaya siluman, preman dan keuntungan. Kalau dalam keadaan normal, tiap harinya rata-rata 50 truk pisang menyeberang dari Bakauhuni ke Merak, maka ketika sepi paling banyak hanya sekitar 10 truk. Omset pisang rakyat ini masih bisa ditingkatkan dua kali lipat. Dan ini merupakan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lumayan untuk dikembangkan dalam rangka otonomi daerah di waktu-waktu mendatang.
Selama ini di masyarakat Lampung dikenal dua istilah pisang. Rames dan super. “Rames” adalah istilah untuk pisang campuran yang mutunya juga sangat rendah. Sementara pisang “super” digunakan masyarakat untuk menyebut pisang-pisang yang lebih homogen dengan kualitas yang relatif lebih baik. Jenis yang paling favorit diminta pasar adalah ambon kuning, raja bulu merah, raja sereh kecil (susu), kepok kuning, mas dan tanduk. Semua jenis favorit ini tidak tahan penyakit, kecuali mas. Pisang-pisang lain yang tahan penyakit adalah ambon lumut, ambon putih, nangka, kepok putih, raja bulu putih, muli, raja sereh besar dan lilin yang semuanya tidak terlalu disukai pasar. Pisang-pisang yang harganya relatif murah inilah yang lazim disebut sebagai pisang “rames” oleh masyarakat. Cara pemetikannya tanpa menghitung tingkat ketuaan, pengangkutannya dengan menumpuk tandan secara tidur dalam bak truk. Tak heran kalau tingkat kerusakan yang ditimbulkannya bisa mencapai 30 sampai 40% setelah tiba di Jakarta atau Bogor.
Dalam keadaan “puncak”, arus pisang rakyat dari Lampung ke DKI dapat mencapai 200 truk per hari. Atau rata-rata setiap 7 menit kita akan berpapasan dengan truk pisang. Pisang-pisang itu akan masuk ke Pasar Induk Cibitung, Pasar Induk Kramat Jati dan ke Cibedug, Ciawi serta ke beberapa kecamatan lain di Kabupaten Bogor. Yang masuk ke pasar Induk selanjutnya akan menjadi pisang goreng, untuk konsumsi rumah sakit, asrama, rumah makan, peserta pertemuan, seminar dan pesta. Sementara yang masuk ke Kab. Bogor akan disortir, diperam dan dipasarkan ke jalur wisata Puncak dan Sukabumi, serta masuk ke pasar swalayan Jakarta. Kira-kira 90 % pisang yang dipasarkan di DKI dan jalur wisata Puncak/Sukabumi berasal dari Lampung. Pisang-pisang rakyat dari Jawa Barat hanya masuk ke pasar-pasar lokal, termasuk pasar lokal di DKI. Pisang Jawa Tengah selama ini mutunya dikenal paling baik dan selalu habis di Jawa Tengah. Demikian pula pisang di Jawa Timur yang sentranya terdapat di Malang selatan dan Lumajang akan habis terserap oleh Surabaya serta Denpasar.
Produksi pisang Lampung tidak seluruhnya diangkut ke Jakarta dalam bentuk segar. Industri keripik pisang telah tumbuh dengan baik dan tiap tahunnya mampu menyerap pisang ambon setengah matang sampai 1.780 ton. Banyak kalangan yang menduga bahwa industri keripik pisang adalah penyerap pisang-pisang afkir atau jenis-jenis yang tidak disukai pasar segar. Dugaan ini tidak benar sebab yang bisa diserap industri keripik hanyalah pisang ambon kualitas baik. Apabila pasokan pisang ambon berkurang, barulah mereka bersedia mengambil cavendish sebagai pilihan terakhir. Pisang-pisang “rames” sama sekali tidak pernah masuk ke industri keripik. Dalam keadaan pasokan normal, industri keripik hanya bersedia menerima pisang ambon kualitas super, meskipun cavendish terbuang-buang untuk pakan sapi. Di provinsi Lampung tercatat ada 13 perusahaan keripik besar. Salah satunya yang paling populer adalah Suseno. Selain itu masih ada puluhan industri keripik skala rumahtangga. Hampir seluruh produksi keripik ini dibawa ke luar Lampung. Untuk dipasarkan di luar Lampung atau sebagai oleh-oleh khas dari provinsi ini.
Di Lampung, sudah sejak jaman “transmigran” dulu, pisang rakyat dibudidayakan secara homogen. Artinya petani tersebut hanya khusus menanam pisang di petak lahannya. Namun budidaya yang mereka lakukan masih menggunakan pola tradisional. Tidak diairi, tidak dipupuk dan tidak dilakukan pengambilan anakan. Akibat tidak dilakukan pengairan secara baik, maka selama musim kemarau antara 3 sd. 5 bulan, produksi akan terganggu. Sementara pada musim hujan produksi melimpah dan harga akan jatuh. Padahal di Lampung banyak dijumpai sungai yang di musim kemarau pun debitnya masih cukup besar. Dengan pompanisasi sederhana, sungai-sungai ini bisa disedot untuk mengairi pisang. Biaya pompa sederhana ini sekitar Rp 5.000.000.- dan bisa mengairi antara 5 sd. 10 hektar lahan. Pola semacam ini sudah banyak diterapkan oleh masyarakat di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo maupun Citarum untuk menanam padi atau palawija di lahan tadah hujan mereka.
Dengan adanya pengairan yang baik, panen pisang akan bisa berlangsung sepanjang tahun tanpa terhenti. Kualitas pisang pun akan pisa ikut diperbaiki. Tahun lalu Skim Kredit Usaha Tani (KUT) untuk pisang ditetapkan Rp 3.500.000,- per hektar. Skim ini dimaksudkan untuk melakukan perawatan, terdiri dari pengairan, pemupukan dan penjarangan anakan. Namun skim-skim demikian banyak diakali oleh aparat Dinas Pertanian, Penyuluh maupun Koperasi. Cara mereka menipu adalah dengan membujuk petani agar mau menanam bibit “kultur jaringan”. Harga bibit kultur jaringan di pasar bebas sekitar Rp 2.500,- per bibit. Tiap hektar lahan akan diperlukan 1.000 bibit. Jadi untuk menanami 1 hektar lahan, sudah diperlukan dana untuk pembelian bibit sebesar Rp 2.500.000,- Hingga uang KUT yang hanya Rp 3.500.000,- itu akan tinggal Rp 1.000.000,- dan itu hanya cukup untuk biaya penanaman.
Bibit-bibit pisang kultur jaringan itu pada akhirnya hancur oleh serangan cendawan Fusarium, bakteri Pseudomonas dan penyakit-penyakit pisang lainnya. Serangan penyakit terhadap pisang yang ditanam homogen, lebih-lebih yang berasal dari bibit kultur jaringan memang sangat ganas. Petani menjadi buntung sementara aparat Dinas, Penyuluh dan Koperasi sudah bisa mendapatkan keuntungan dari margin perdagangan bibit. Hal semacam ini sangat sulit untuk dibuktikan di lapangan, meskipun para petani dan masyarakat pada umumnya sangat merasakan adanya “bau” KKN. Padahal, apabila uang Rp 3.500.000,- per hektar itu benar-benar digunakan untuk mengairi tanaman, memupuk dan menjarangkan anakan, maka petani akan bisa penen minimal 3 kali selama setahun dari sebelumnya 2 kali setahun. Kualitasnya pun akan meningkat. Kalau sebelumnya rata-rata berisi 6 sisir, akan menjadi rata-rata 8 sisir. Beratnya akan naik dari rata-rata 10 kg menjadi 15 kg per tandan. Dan harganya berubah pula dari Rp 300,- per kg (rames) menjadi Rp 500,- atau dari Rp 600,- (super) menjadi Rp 800,- di tingkat petani. Dengan modal Rp 3.500.000,- per hektar itu, kenaikan pendapatan petani bisa mencapai Rp 12.500.000,- per hektar. Namun hal ini baru bisa dicapai apabila para petani bersedia mengelompok hingga luasan areal mereka mencapai 5 sampai dengan 10 hektar.
Kondisi lapangan demikian tidak pernah disadari oleh aparat Departemen Pertanian maupun Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat. Mereka lebih banyak mengeluhkan masalah pemasaran. Misalnya saja, mereka beranggapan selama ini para petani hanya menjadi obyek pemerasan tengkulak. Kalau para petani itu berniat memasarkan sendiri produk mereka ke Pasar Induk, maka mereka akan berhadapan dengan “mafia” Pasar Induk yang sulit untuk ditembus. Sementara pasar ekspor juga tidak pernah menjanjikan apa-apa selain serangkaian kesulitan dan kerumitan persyaratan. Kesemrawutan permasalahan pisang rakyat di Lampung ini masih pula ditambah dengan kenyataan bahwa kebun pisang cavendish PT Nusantara Tropical Fruits (NTF) di Wai Jepara, Lampung Tengah seluas lebih dari 2.000 hektar, sekarang ini dalam kondisi “dorman” berat. Kapasitas produksinya tinggal kurang dari 20% dari kapasitas normalnya akibat hajaran penyakit.
BIBIT PISANG DAN TEKNIK PERBANYAKKAN PISANG
RAJA PISANG GUNTORO DWI AGUS NUGROHO S.Pd
Petani di Desa Amal Kecamatan Sindue sangat antusias menyambut kedatangan Dr.Ir. Catur Hermanto, salah seorang peneliti dari Balai Penelitian Buah (Balitbu) Solok yang ahli pisang. Desa Amal merupakan salah satu wilayah binaan BPTP Sulawesi Tengah dengan kegiatan Gelar Teknologi Pemeliharaan Pisang dan Perbanyakan Bibit Pisang dengan Teknologi Bonggol. Kelompok tani yang dibina bernama kelompoktani Sintuvu Molumpe yang artinya bersatu untuk kebaikan. Kebiasaan petani menanam pisang umumnya tidak dilakukan pemeliharaan bahkan salah seorang anggota mengatakan mereka hanya menanam pisang kemudian membiarkan dan akan datang melihat lagi bila sudah hampir panen.
Penjelasan dari Catur Hermanto membuat anggota kelompok semakin mengerti betapa pentingnya pemeliharaan pisang dan mengetahui jenis-jenis hama dan penyakit yang sering menyerang pisang. Materi yang diberikan berupa Pisang, Peluang dan Tantangannya. Permintaan akan pisang di daerah tersebut sebenarnya cukup banyak. Untuk dijual ke pasar bahkan sudah sampai ke Kalimantan Timur.
Praktek langsung yang diberikan oleh ahli pisang ini semakin menambah antusias petani untuk terus belajar. Pemberian penjelasan di salah satu rumah petani dan kemudian dilanjutkan di lapangan tentang praktek memperbanyak pisang dengan menggunakan bonggol. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan bedengan dan bonggol pisang untuk melihat langsung cara memperbanyak pisang dengan bonggol.
Petani merasakan bahwa untuk dapat meningkatkan produktivitas pisang, diperlukan bibit yang sehat dan bermutu. Dalam pengembangan pisang selama ini ada kendala dalam ketersediaan bibit, khususnya bibit pisang yang sehat. Biasanya petani memperoleh bibit pisang dari anakan yang dipisahkan dari rumpun induknya, sehingga agak sulit untuk mendapatkan bibit pisang dalam jumlah banyak dengan cepat, selain itu juga cara ini dapat merusak tanaman induknya dan mempermudah timbulnya serangan hama dan penyakit.
Perbanyakan bibit pisang menghasilkan bibit sehat dalam jumlah banyak dan cepat dengan kualitas yang baik yaitu dengan perbanyakan bibit menggunakan BIT (bonggol pisang). Ada dua cara yang diajarkan yaitu memperbanyak bibit bentuk kubus dan cara kedua yaitu mematikan titik tumbuh pada bonggol.
Teknik Perbanyakan Pisang melalui Bonggol
Teknologi perbanyakan bibit pisang dengan menggunakan bonggol yaitu:
1. Bibit bentuk kubus
a. Pohon yang sudah dipanen dibongkar, kemudian bersihkan bonggol dari tanah dan akar.
b. Perhatikan mata tunas dibonggol dan pilih mata tunas yang sudah muncul dengan ketinggian mata tunas minimal 2,5 cm.
c. Potong mata tunas ini dengan menyertakan bagian bonggol , sehingga berbentuk seperti kubus atau tahu dengan ukuran 10x10x10 cm.
d. Untuk mengendalikan hama dan patogen, rendam potongan-potongan bentuk kubus atau tahu ini di dalam air hangat (50OC) atau direndam dalam campuran 2 g benlate (fungisida) + 1 cc (insektisida) per liter air selama lebih kurang 15 menit.
e. Setelah itu diangkat dan diangin-anginkan, agar air yang tersisa dalam potongan tersebut menjadi kering.
f. Siapkan polibag ukuran 25 x 30 cm (sesuai dengan ukuran potongan bonggol), isi dengan tanah subur atau dicampur dengan 10% kompos (perbandingan 1 bagian pupuk kandang/kompos dan 9 bagian tanah), dapat juga menggunakan pasir, kompos dan tanah (perbandingan 1 : 1: 8). Tanah yang digunakan tidak berasal dari bekas tanaman sakit atau terserang hama (sesuai persyaratan tanaman induk)
g. Tanam potongan bonggol (bentuk kubus) ini dengan mata tunas menghadap keatas, kemudian timbun kembali dengan tanah + 3 cm diatasnya atau dapat juga tanpa penimbunan dengan tanah. Penanaman dalam polibag sangat membantu ketika bibit yang dipersiapkan akan dibawa ketempat jauh.
h. Bila tidak menggunakan polibag, cara lain adalah dengan mempersiapkan bedengan selebar 50-100 cm dan panjang secukupnya, kemudian tanamkan kubus tadi dengan jarak 15 - 20 cm. Perbandingan antara tanah, pupuk kandang dan pasir adalah 8 : 1 : 1, agar tanah menjadi agak remah.
i. Penyiraman harus dilakukan dengan hati-hati dan secukupnya. Tanah basah akan mempercepat pembusukan dan diserang hama.
j. Setelah sekali penyiraman, bagian atas polibag ditutup/dilipat kedalam, sedangkan untuk bedengan ditutup dengan mulsa jerami kering.
k. Tiga (3) sampai empat (4) bulan kemudian, mata tunas tumbuh menjadi 20 – 30 cm dan dapat digunakan sebagai bibit.
Petani di Desa Amal Kecamatan Sindue sangat antusias menyambut kedatangan Dr.Ir. Catur Hermanto, salah seorang peneliti dari Balai Penelitian Buah (Balitbu) Solok yang ahli pisang. Desa Amal merupakan salah satu wilayah binaan BPTP Sulawesi Tengah dengan kegiatan Gelar Teknologi Pemeliharaan Pisang dan Perbanyakan Bibit Pisang dengan Teknologi Bonggol. Kelompok tani yang dibina bernama kelompoktani Sintuvu Molumpe yang artinya bersatu untuk kebaikan. Kebiasaan petani menanam pisang umumnya tidak dilakukan pemeliharaan bahkan salah seorang anggota mengatakan mereka hanya menanam pisang kemudian membiarkan dan akan datang melihat lagi bila sudah hampir panen.
Penjelasan dari Catur Hermanto membuat anggota kelompok semakin mengerti betapa pentingnya pemeliharaan pisang dan mengetahui jenis-jenis hama dan penyakit yang sering menyerang pisang. Materi yang diberikan berupa Pisang, Peluang dan Tantangannya. Permintaan akan pisang di daerah tersebut sebenarnya cukup banyak. Untuk dijual ke pasar bahkan sudah sampai ke Kalimantan Timur.
Praktek langsung yang diberikan oleh ahli pisang ini semakin menambah antusias petani untuk terus belajar. Pemberian penjelasan di salah satu rumah petani dan kemudian dilanjutkan di lapangan tentang praktek memperbanyak pisang dengan menggunakan bonggol. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan bedengan dan bonggol pisang untuk melihat langsung cara memperbanyak pisang dengan bonggol.
Petani merasakan bahwa untuk dapat meningkatkan produktivitas pisang, diperlukan bibit yang sehat dan bermutu. Dalam pengembangan pisang selama ini ada kendala dalam ketersediaan bibit, khususnya bibit pisang yang sehat. Biasanya petani memperoleh bibit pisang dari anakan yang dipisahkan dari rumpun induknya, sehingga agak sulit untuk mendapatkan bibit pisang dalam jumlah banyak dengan cepat, selain itu juga cara ini dapat merusak tanaman induknya dan mempermudah timbulnya serangan hama dan penyakit.
Perbanyakan bibit pisang menghasilkan bibit sehat dalam jumlah banyak dan cepat dengan kualitas yang baik yaitu dengan perbanyakan bibit menggunakan BIT (bonggol pisang). Ada dua cara yang diajarkan yaitu memperbanyak bibit bentuk kubus dan cara kedua yaitu mematikan titik tumbuh pada bonggol.
Teknik Perbanyakan Pisang melalui Bonggol
Teknologi perbanyakan bibit pisang dengan menggunakan bonggol yaitu:
1. Bibit bentuk kubus
a. Pohon yang sudah dipanen dibongkar, kemudian bersihkan bonggol dari tanah dan akar.
b. Perhatikan mata tunas dibonggol dan pilih mata tunas yang sudah muncul dengan ketinggian mata tunas minimal 2,5 cm.
c. Potong mata tunas ini dengan menyertakan bagian bonggol , sehingga berbentuk seperti kubus atau tahu dengan ukuran 10x10x10 cm.
d. Untuk mengendalikan hama dan patogen, rendam potongan-potongan bentuk kubus atau tahu ini di dalam air hangat (50OC) atau direndam dalam campuran 2 g benlate (fungisida) + 1 cc (insektisida) per liter air selama lebih kurang 15 menit.
e. Setelah itu diangkat dan diangin-anginkan, agar air yang tersisa dalam potongan tersebut menjadi kering.
f. Siapkan polibag ukuran 25 x 30 cm (sesuai dengan ukuran potongan bonggol), isi dengan tanah subur atau dicampur dengan 10% kompos (perbandingan 1 bagian pupuk kandang/kompos dan 9 bagian tanah), dapat juga menggunakan pasir, kompos dan tanah (perbandingan 1 : 1: 8). Tanah yang digunakan tidak berasal dari bekas tanaman sakit atau terserang hama (sesuai persyaratan tanaman induk)
g. Tanam potongan bonggol (bentuk kubus) ini dengan mata tunas menghadap keatas, kemudian timbun kembali dengan tanah + 3 cm diatasnya atau dapat juga tanpa penimbunan dengan tanah. Penanaman dalam polibag sangat membantu ketika bibit yang dipersiapkan akan dibawa ketempat jauh.
h. Bila tidak menggunakan polibag, cara lain adalah dengan mempersiapkan bedengan selebar 50-100 cm dan panjang secukupnya, kemudian tanamkan kubus tadi dengan jarak 15 - 20 cm. Perbandingan antara tanah, pupuk kandang dan pasir adalah 8 : 1 : 1, agar tanah menjadi agak remah.
i. Penyiraman harus dilakukan dengan hati-hati dan secukupnya. Tanah basah akan mempercepat pembusukan dan diserang hama.
j. Setelah sekali penyiraman, bagian atas polibag ditutup/dilipat kedalam, sedangkan untuk bedengan ditutup dengan mulsa jerami kering.
k. Tiga (3) sampai empat (4) bulan kemudian, mata tunas tumbuh menjadi 20 – 30 cm dan dapat digunakan sebagai bibit.
Resep es pisang ijo
RAJA PISANG GUNTORO DWI AGUS NUGROHO S.Pd
Es Pisang Ijo
Bahan :
Es Pisang Ijo
Bahan :
- 40 gr tepung beras
- 1\2 sdt garam
- 300 ml air
- 100 ml air daun suji
- 3 tetes pewarna hijau
- 175 gr tepung beras
- 5 buah pisang raja yang tua
- Es serut secukupnya
- Sirup merah secukupnya
- Nangka secukupnya, potong-potong
- 650 ml santan
- 50 gr tepung terigu
- 75 gr gula pasir
- 1 lembar daun pandan
- 1\4 sdt garam
- Aduk tepung beras, garam, air, air daun suji, dan pewarna hijau. rebus sambil diaduk sampai mendidih, angkat.
- Tambahkan tepung beras, aduk rata. lalu aduk lagi sampai kalis. tipiskan adonan, balutkan pada pisang hingga tertutup.
- Kukus pisang selama 20 menit. angkat dan sisihkan.
- Rebus bahan saus sampai mendidih, angkat, lalu dinginkan.
- Potong-potong pisang hijau, tuangkan saus, es serut, sirup merah, dan potongan nangka. siapkan disajikan.
Langganan:
Postingan (Atom)




















































