MAU KAYA????

Rabu, 08 Juni 2011

BIBIT PISANG DAN TEKNIK PERBANYAKKAN PISANG

RAJA PISANG GUNTORO DWI AGUS NUGROHO S.Pd


Petani di Desa Amal Kecamatan Sindue sangat antusias menyambut kedatangan Dr.Ir. Catur Hermanto, salah seorang peneliti dari Balai Penelitian Buah (Balitbu) Solok yang ahli pisang.  Desa Amal merupakan salah satu wilayah binaan BPTP Sulawesi Tengah dengan kegiatan Gelar Teknologi Pemeliharaan Pisang dan Perbanyakan Bibit Pisang dengan Teknologi Bonggol. Kelompok tani yang dibina bernama kelompoktani Sintuvu Molumpe yang artinya bersatu untuk kebaikan. Kebiasaan petani menanam pisang umumnya tidak dilakukan pemeliharaan bahkan salah seorang anggota mengatakan mereka hanya menanam pisang kemudian membiarkan dan akan datang melihat lagi bila sudah hampir panen. 
Penjelasan  dari Catur Hermanto membuat anggota kelompok semakin mengerti betapa pentingnya pemeliharaan pisang dan mengetahui jenis-jenis hama dan penyakit yang sering menyerang pisang. Materi yang diberikan berupa Pisang, Peluang dan Tantangannya. Permintaan akan pisang di daerah tersebut sebenarnya cukup banyak. Untuk dijual ke pasar bahkan sudah sampai ke Kalimantan Timur.
Praktek langsung yang diberikan oleh ahli pisang ini semakin menambah antusias petani untuk terus belajar. Pemberian penjelasan di salah satu rumah petani dan kemudian dilanjutkan di lapangan tentang praktek memperbanyak pisang dengan menggunakan bonggol. Sebelumnya mereka sudah mempersiapkan bedengan dan bonggol pisang untuk melihat langsung cara memperbanyak pisang dengan bonggol.
Petani merasakan bahwa untuk dapat meningkatkan produktivitas pisang, diperlukan bibit yang sehat dan bermutu. Dalam pengembangan pisang selama ini ada kendala dalam ketersediaan bibit, khususnya bibit pisang yang sehat. Biasanya petani memperoleh bibit pisang dari anakan yang dipisahkan dari rumpun induknya, sehingga agak sulit untuk mendapatkan bibit pisang dalam jumlah banyak dengan cepat, selain itu juga cara ini dapat merusak tanaman induknya dan mempermudah timbulnya serangan hama dan penyakit.
Perbanyakan bibit pisang menghasilkan bibit sehat dalam jumlah banyak dan cepat dengan kualitas yang baik yaitu dengan perbanyakan bibit menggunakan BIT (bonggol pisang). Ada dua cara yang diajarkan yaitu memperbanyak bibit  bentuk kubus dan cara kedua yaitu mematikan titik tumbuh pada bonggol.
Teknik Perbanyakan Pisang melalui Bonggol
Teknologi perbanyakan bibit pisang dengan menggunakan bonggol yaitu:
1. Bibit bentuk kubus
a. Pohon yang sudah dipanen dibongkar, kemudian bersihkan bonggol dari tanah dan akar.
b. Perhatikan mata tunas dibonggol dan pilih mata tunas yang sudah muncul dengan    ketinggian mata tunas minimal 2,5 cm.
c. Potong mata tunas ini dengan menyertakan bagian bonggol , sehingga berbentuk seperti kubus atau tahu dengan ukuran 10x10x10 cm.
d. Untuk mengendalikan hama dan patogen, rendam potongan-potongan bentuk kubus atau tahu ini di dalam air hangat (50OC) atau direndam dalam campuran 2 g benlate (fungisida) + 1 cc (insektisida) per liter air selama lebih kurang 15 menit.
e. Setelah itu diangkat dan diangin-anginkan, agar air yang tersisa dalam potongan tersebut menjadi kering.
f. Siapkan polibag ukuran 25 x 30 cm (sesuai dengan ukuran potongan bonggol), isi dengan tanah subur atau dicampur dengan 10% kompos (perbandingan 1 bagian pupuk kandang/kompos dan 9 bagian tanah), dapat juga menggunakan pasir, kompos dan tanah (perbandingan 1 : 1: 8). Tanah yang digunakan tidak berasal dari bekas tanaman sakit atau terserang hama (sesuai persyaratan tanaman induk)
g. Tanam potongan bonggol (bentuk kubus) ini dengan mata tunas menghadap keatas, kemudian timbun kembali dengan tanah + 3 cm diatasnya atau dapat juga tanpa penimbunan dengan tanah. Penanaman dalam polibag sangat membantu ketika bibit yang dipersiapkan akan dibawa ketempat jauh.
h. Bila tidak menggunakan polibag, cara lain adalah dengan mempersiapkan bedengan selebar 50-100 cm dan panjang secukupnya, kemudian tanamkan kubus tadi dengan jarak 15 - 20 cm. Perbandingan antara tanah, pupuk kandang dan pasir adalah 8 : 1 : 1, agar tanah menjadi agak remah.
i. Penyiraman harus dilakukan dengan hati-hati dan secukupnya. Tanah basah akan mempercepat pembusukan dan diserang hama.
j. Setelah sekali penyiraman, bagian atas polibag ditutup/dilipat kedalam, sedangkan untuk bedengan ditutup dengan mulsa jerami kering.
k. Tiga (3) sampai empat (4) bulan kemudian, mata tunas tumbuh menjadi 20 – 30 cm dan dapat digunakan sebagai bibit.

2 komentar:

TERIMAKASIH, semoga bermanfaat.....